Eksistensi Kultur Perusahaan dalam Perjalanan Menuju Keberhasilan

Kultur perusahaan sebagai nyawa suatu perusahaan untuk menuju kesuksesan haruslah dibangun dan dipertahankan keberadaannya. Layaknya manusia yang selalu beradaptasi untuk mempertahankan nyawa kehidupan, perusahaan pun berkewajiban untuk mempertahankan kultur perusahaan yang telah dibangun demi sebuah kesuksesan yang berlanjut.

1

Bagan di atas merupakan struktur dasar keberadaan kultur dalam suatu perusahaan menurut Robbins (2001:522). Kultur awal dan yang mendasar dalam suatu perusahaan merupakan hasil olah pikir dan keinginan pendiri perusahaan. Hal ini akan sangat mempengaruhi kriteria dalam proses perekrutan karyawan. Setelah itu, kultur perusahaan akan menjadi tanggung jawab bagian manajemen perusahaan; penyeleksian sisi positif dan negatif pada kultur yang telah ada. Proses sosialisasi kultur perusahaan oleh pihak manajemen yang telah melalui proses pembenahan akan terlihat sukses tidaknya lewat keserasiannya dengan karyawan perusahaan.

Aswathapa (2003:483), berpendapat serupa dengan Robbins bahwa proses pembentukan kultur perusahaan akan selalu diikuti oleh beberapa langkah untuk menjaganya tetap berfungsi bagi perusahaan. Langkah-langkah tersebut adalah proses seleksi, kebijakan dari pihak top manajemen, dan metode sosialisasi.

  • Proses Seleksi

Tujuan utama dalam proses perekrutan adalah mendapatkan karyawan yang tepat untuk posisi pekerjaan yang tepat. Ketika terdapat beberapa kandidat yang memiliki tingkat kemampuan dan keahlian yang sama, pertimbangan terakhir adalah bagaimana karakter dan pribadi mereka. Kecocokan calon pekerja dengan atmosfer kerja perusahaan menjadi hal yang sangat penting. Dengan demikian, keseimbangan kultur perusahaan pun tetap terjaga.

  • Top Manajemen

Kebijakan dari top manajemen akan memberikan pengaruh besar bagi kultur perusahaan. Melalui pendapat dan  mandate mereka, senior eksekutif akan menentukan peraturan-peraturan dan kebijakan seperti apa yang akan berlaku dalam perusahaan.

  • Sosialisasi

Sebaik apa pun proses seleksi pekerja, para karyawan baru tetap tidak akan secara langsung mengenal dan memahami kultur perusahaan yang diterapkan. Biasanya mereka akan merasa tidak nyaman dengan atmosfer kerja pada masa awal karir mereka karena belum beradaptasi dengan lingkungan kerja. Proses adaptasi inilah yang disebut dengan  proses sosialisasi.

Menurut Moorhead dan Driffin (2001:519), kultur perusahaan dapat dipertahankan dengan mengkukuhkan ideologi kultur yang ada pada tiap karyawan melalui keseaharian kerja mereka. Pengukuhan ini dapat dipacu dengan kebijakan pemberian reward (penghargaan) bagi karyawan terbaik. Hal ini memerlukan proses penyelenggaraan yang baik supaya semua karyawan dapat memahami sosialisasi kultur dengan baik. Tahap pengukuhan ideologi ini merupakan titik temu akhir antara pembentukan kultur perusahaan dan strategi penerapannya.

Kultur sebagai Titik Lemah

Tidak selamanya kultur perusahaan menghantarkan pada kesuksesan, kadang ia dapat menjadi titik lemah dalam kondisi tertentu. Robbins (2003) berpendapat bahwa kultur perusahaan menjadi titik lemah bagi perusahaan apabila nilai-nilai kultur tidak dapat diterima oleh para karyawan. Hal ini menunjukkan proses sosialisasi yang gagal dalam pengukuhan ideologi kultur. Ketika atmosfer lingkungan kerja selalu berubah, kultur perusahaan yang ada tidak akan dapat bertahan dalam jangka lama. Konsistensi menjadi harga mati akan eksistensi kultur dalam perusahaan. Atmosfer kerja yang dinamis memaksa perusahaan untuk selalu mengadakan perombakan terhadap kultur perusahaan sehingga tidak menjadi titik lemah bagi perusahaan.

Penelitian mengenai Kultur Perushaan

Berikut adalah beberapa hasil penelitian tentang kultur dalam perusahaan dan beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya.

  • Hubungan antara Kultur dan Pekerja

Dalam suatu penelitian terhadap enam perusahaan Public Accounting dalam jangka waktu enam periode, Sheridan (1992) mengemukakan bahwa kultur perusahaan yang tidak konsisten mempengaruhi sistem kerja perusahaan, terlebih lagi menjadi rintangan yang lebih bagi para pekerja baru. Para karyawan yang baru memulai karirnya belum memahami sepenuhnya prinsip dasar dari kultur yang ada, akan tetapi sudah diwajibkan untuk dapat terus beradaptasi dengan kultur yang selalu berubah-ubah. Penelitian ini membuktikan bahwa kultur perusahaan yang tidak konsisten lebih memberikan dampak bagi kelangsungan kerja perusahaan dibandingkan dengan kelambanan proses sosialisasi para karyawan baru pada masa itu.

  • Hubungan antara Kultur dan Performa Ekonomi Perusahaan

Calori dan Sarnin (1991) melakukan penelitian terhadap lima perusahaan di Perancis selama tiga tahun megenai hubungan kultur dengan performa ekonomi perusahaan. Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi perusahaan sangat bergantung dari kultur yang ada. Faktor-faktor sederhana seperti semangat kerja, loyalitas, kejujuran, dan lain sebagainya menjadi penunjang bertumbuhnya ekonomi perusahaan. Proses menejemen yang baik dalam kultur perusahaan pun menjadi kunci suksesnya eksistensi perusahaan dalam memajukan performa ekonomi.

  • Kultur Perusahaan, Orientasi Konsumen, dan Inovatifitas

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Desphande, Farley, dan Webster

(1993) terhadap perusahan nasional di Jepang menyatakan bahwa titik temu antara kultur perusahaan, orientasi konsumen, dan inovatifitas dipengaruhi oleh adanya respon yang cepat, tanggap, dan fleksibel oleh para karyawan terhadap permintaan pasar. Hal ini disebabkan adanya kultur yang fleksibel dan peka terhadap kondisi pasar.

  • Perombakan Kultur demi Keuntungan Perusahaan

Suatu penelitian selama dua tahun pada suatu perusahaan milik pemerintah US oleh Zamanou dan Gleser (1994) meneliti progam intervensi komunikasi dalam proses perombakan kultur perusahaan dari kultur yang penuh hierarki menuju kultur yang mengedepankan partisipasi seluruh karyawan. Penelitian ini dikerjakan melalui tiga tahap, yaitu kuesioner, interview, dan pengamatan secara langsung.

Penelitian ini menunjukkan betapa perombakan komunikasi dapat memberikan pengaruh luar biasa bagi kultur dan komunikasi internal suatu perusahaan. Para karyawan pun merasakan besarnya pengaruh dari perombakan sistem komunikas yang dilakukan. Mereka menjadi lebih merasa berpartisipasi atas kemajuan perusahaan, bahkan mereka merasa benar-benar telah menjadi bagian penting dalam perusahaan.

  • Kultur dan Performa Kinerja Perusahaan

Denison (1984) menyimpulkan hasil penelitiannya, bahwa perusahaan dengan kultur yang mementingkan partisipasi penuh dari seluruh karyawan dapat memperoleh kuntungan dua kali lebih besar. Dia menyatakan bahwa kultur dan kebiasaan dari sebuah perusahaan dapat mempengaruhi kinerja jangka pendek maupun jangka panjang.

Petty (1995) juga menyatakan bahwa kultur perusahaan sangat mempengaruhi performa kinerja perusahaan. Dia berpendapat bahwa kerjasama tim dan partisipasi seluruh anggota perusahaan sangat diperlukan dalam kinerja yang cepat dan efektif.

Menurut Brightman dan Sayeed (1990), terdapat empat faktor penentu hubungan kultur dengan performa kerja perusahaan. Pertama, perusahaan yang sukses memiliki komunikasi yang lebih bersifat horizontal. Maka, hal ini memacu untuk adanya komunikasi internal yang baik dalam perusahaan. Komunikasi internal yang baik memberikan kesempatan bagi seluruh anggota perusahaan untuk berpendapat dan menyampaikan ide-ide mereka. Oleh karena itu, perusahaan dan seluruh karyawan akan berkembang secara bersamaan hingga dapat menuju kesuksesan.

  • Besarnya Perusahaan dan Kultur Perusahaan

Saiyadin (2003) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa ukuran besar-kecilnya suatu perusahaan berpengaruh terhadap kultur perusahaan. Dari penelitiannya terhadap enam perusahaan di Australia, dapat disimpulkan bahwa semakin kecil perusahaan semakin besar peluang untuk terciptanya kultur perusahaan yang semakin baik. Perusahaan yang besar justru memiliki rintangan lebih dalam membangun kultur yang baik dan tepat bagi perusahaan.

  • Menutup Jarak antara Kultur Terkini dan Kultur Ideal dalam Perusahaan

Penilaian dan pengawasan terhadap kultur perusahaan menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Kultur perusahaan membantu suatu perusahaan untuk mencapai tujuan utama dalam bisnisnya. Penilaian atas kultur perusahaan dapat menunjukkan seberapa jauh perbedaan antara kultur yang ada dan kultur yang seharusnya ada dalam suatu perusahaan. Dengan demikian, dapat dirancang strategi menuju kultur yang diinginkan. Tiap-tiap perusahaan memiliki karakteristiknya masing-masing. Tidak ada cara yang paling tepat dan benar dalam penilaian dan pengembangan kultur perusahaan, karena hukum relativitas sangat berlaku dalam hal ini.

Head Office | Menara Rajawali Lt. 11 | Jl. Mega Kuningan lot 5.1 Jakarta Selatan 12950 | Phone : (62-21) 576 2727 | Fax : (62-21) 576 2736 | Email : Info@Stellarhr.co

Regional Office | Komplek Graha Asri K-12B | Jl.Ngagel 179-183 Surabaya 60246 | Phone : (62-31) 502 0203 | Fax : (62-31) 503 9034 | Email : Info@Stellarhr.co